Apa Microlearning dan Mengapa Hal Ini Penting Bagi Organisasi Masa Kini

Perlu terobosan dalam mengelola suatu proses pembelajaran yang less budget, namun dengan impact yang besar bagi kompetensi seseorang karyawan

Andreas Imawanto

By Andreas Imawanto

Dewasa ini perusahaan semakin fokus kepada pengembangan sumber daya karyawan nya, namun dengan persaingan bisnis yang semakin kompetitif , alokasi biaya untuk pelatihan semakin diperketat. Beberapa survey yang dilakukan oleh Asosiasi Organization Learning, menunjukkan adanya perubahan struktur biaya pengembangan dan pelatihan karyawan sebesar 12%. Kondisi ini tentunya bisa backfire bagi organisasi untuk terus berkembang, karena sementara untuk membuat organisasi tetap produktif adalah pelatihan yang terus menerus bagi karyawannya.

Akhir-akhir ini perusahaan-perusahaan sudah mencoba untuk memikirkan bagaimana mengurangi cost dari suatu pelatihan konvensional, yang biasanya di dalamnya terdapat biaya-biaya yang tersembunyi yang tidak terlihat.

Misalnya biaya makan, biaya ruangan, biaya transportasi jika di luar kota dan biaya pendamping dari pihak internal yang juga harus ikut ketika pelatihan berlangsung.

Sehingga perlu terobosan dalam mengelola suatu proses pembelajaran yang less budget, namun dengan impact yang besar bagi kompetensi seorang karyawan. Mungkin Anda akan bilang, serius ?

“Microlearning memungkinkan untuk membantu peserta belajar tanpa harus membuka konten halaman demi halaman dan ini merupakan salah satu kelebihan dari microlearning yang paling penting.”

Definisi Microlearning

Dalam istilah teknologi pendidikan, microlearning adalah suatu proses pembelajaran yang singkat dan terfokus yang berlangsung antara 3 hingga 6 menit saja dan dalam kurun waktu tersebut beserta mempelajari konsep-konsep yang paling dasar, namun sangat spesifik sehingga konsep tersebut dapat mudah diingat dengan jangka panjang dan mereka dapat lebih mudah mengimplementasikannya ke dalam suatu proses pekerjaan di kemudian hari.

Untuk proses pembelajaran yang membutuhkan refresh atau akses yang cepat. Microlearning memungkinkan untuk membantu peserta belajar tanpa harus membuka halaman demi halaman konten dan ini merupakan salah satu kelebihan dari microlearning yang paling penting.

Pembelajaran microlearning cocok bagi karyawan yang sudah memiliki pengetahuan sebelumnya dan memiliki pengalaman sehingga mereka cenderung untuk lebih fokus dalam belajar dan tidak memiliki waktu untuk mengikuti suatu pelatihan yang memakan waktu yang panjang. Microlearning akan membantu peserta untuk mengakses topik-topik yang menjadi minatnya dan dapat dengan mudah mencapai tujuan pembelajaran dalam hitungan menit.

Jika dalam pelatihan e-learning sebelumnya, learning departemen harus menyusun konten dan alur cerita sebelumnya yang lengkap. Dalam microlearning, pemecahan menjadi bagian-bagian kecil akan mempermudah untuk ia lebih fokus pada bagian pembelajaran sesuai dengan minatnya. dan peserta juga dapat mengevaluasi kembali atau menelusuri kembali pembelajaran yang sudah dilewati secara terus berulang-ulang dan ini akan membantunya ketika ia akan mengimplementasikan konsep tersebut ke dalam pekerjaan.

Microlearning juga sangat mudah diakses melalui perangkat yang sehari-hari dibawa oleh peserta, yaitu smartphone. Berdasarkan penelitian fungsi smartphone  sudah berubah dari telepon dan chatting menjadi satu perangkat transaksi hingga pembelajaran. Karena mobilitas yang tinggi dari smartphone tersebut pembelajaran akan jauh lebih mudah, karena jika kita mengandalkan seperti laptop atau PC tentu kita tidak bisa melakukan apapun kecuali mereka ada di suatu lokasi yang memungkinkan mereka membuka laptop. Namun pembelajaran dengan menggunakan smartphone  akan jauh lebih tinggi mobilitasnya karena kapanpun mereka bisa membuka kapanpun mereka bisa belajar dan bahkan ketika mereka sedang menunggu suatu meeting kantor, menunggu orang lain pun mereka bisa belajar dalam waktu yang singkat.

Pembelajaran microlearning akan jauh lebih berkembang saat perusahaan banyak diisi oleh generasi milenial. Generasi yang sudah tidak asing dengan gadget, bahkan disebutkan bahwa mereka adalah generasi yang memiliki rentang konsentrasi yang pendek sehingga ketika mereka hanya diwajibkan untuk belajar 20 menit dalam sehari akan jauh membuat mereka dapat mengelola waktu peluang mereka lebih optimal, dibandingkan untuk meminta mereka datang suatu pelatihan selama dua hari, yang pada hanya membuat mereka menjadi bosan dan tidak konsentrasi terhadap materi yang diberikan, sehingga membuat pembelajaran menjadi sia-sia.

Namun, untuk melaksanakan microlearning tentu harus didukung oleh platform aplikasi yang memadai sehingga selain mudah diakses juga memiliki teknologi pembelajaran yang sesuai bagi orang-orang yang sudah memiliki pengalaman dan ingin mengakses pengetahuan secara instan.

Dalam microlearning, banyak sekali mengadopsi metode-metode yang sudah familiar digunakan di smartphone. Misalnya : video, chatting, group discussion, mentoring, video selfie, gamification dan masih banyak teknologi yang dekat dengan kemampuan smartphone yang ada saat ini.

Apakah metode microlearning dapat menggantikan seluruh pelatihan konvensional?

Jawabannya tidak, karena ada jenis-jenis pelatihan yang memang sangat membutuhkan tatap muka dari trainer kepada para peserta misalnya pelatihan pelatihan yang sifatnya motivasi. Namun untuk pelatihan-pelatihan yang semi teknis misalnya teknik presentasi, selling skill, leadership dapat menggunakan teknik microlearning.

Bahkan microlearning juga dapat dijadikan sebagai alat untuk menjelaskan tentang kebijakan organisasi, yang jika harus dilakukan secara konvensional tentunya membutuhkan waktu yang cukup panjang apalagi jika perusahaan memiliki jumlah karyawan yang besar. Jika penjelasan dilakukan melalui para supervisor, bisa jadi kebijakan-kebijakan tersebut salah dalam menjelaskan dan tidak tepat dipahami oleh karyawan. Namun dengan teknologi microlearning kebijakan perusahaan secara masif di mana peserta diwajibkan untuk benar-benar memperhatikan seluruh poin kebijakan tersebut dengan teknologi yang sama secara knowledge, bahkan peserta dapat langsung bertanya melalui chat forum, yang pada akhirnya akan mengurangi kesalahpahaman.

Perusahaan pun dapat memonitor siapa-siapa yang tidak membaca dengan seksama, bahkan peserta juga diminta untuk mengevaluasi pemahaman mengenai setiap poin kebijakan perusahaan tersebut dan akan segera diluruskan dengan informasi yang benar jika pemahaman pemahaman tersebut salah. Sehingga ketika sosialisasi dilaksanakan dan ada karyawan yang beralasan tidak memahami makna dari suatu kebijakan tersebut, maka perusahaan akan dapat memiliki argumen yang kuat.

Hal yang menarik dari pembelajaran microlearning adalah seluruh informasi data kata-kata dan ide dan gagasan yang mungkin muncul selama proses pelatihan ini tersimpan rapi sebagai knowledge manajemen bagi organisasi di masa depan. Karena semua ide gagasan maupun data-data tersebut akan di masukkan ke dalam database yang dapat dijadikan sebagai analisis bagi organisasi untuk melihat seberapa efektif pembelajaran yang sudah lakukan dan seberapa efektif pengetahuan-pengetahuan tersebut dapat diimplementasikan kedalam proses kerja yang jauh lebih baik.

Microlearning juga dapat digunakan untuk menjelaskan proses kerja yang baru di suatu perusahaan secara masif. Di mana microlearning ini akan membantu agar proses baru tersebut dapat dipahami dan dilaksanakan dengan tepat dan akurat. Jika selama ini ini untuk menjelaskan suatu proses dilakukan melalui briefing yang berulang-ulang yang bisa jadi menghabiskan waktu dan mengurangi produktivitas kerja karyawan, namun sekarang penjelasan mengenai proses ini dapat dilakukan secara sistem digital. Bahkan ketika peserta kesulitan untuk mengimplementasikan proses tersebut mereka dapat mengulang proses belajar melihat kembali poin-poin di mana mereka memerlukan pemahaman yang lebih jelas dan detail dan langsung bertanya.

Microlearning membantu serta menciptakan tanggung jawab pribadi dan otonomi dalam proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran microlearning peserta didorong untuk aktif ketika mempelajari hal-hal baru di mana mereka juga harus melakukan proses diskusi dengan rekan belajar mereka secara intensif. Dengan memasang skor pencapaian mereka , maka mereka pun akan bisa melihat ranking masing-masing peserta termasuk diri mereka sendiri dalam seluruh proses pembelajaran. Hal ini tentunya akan mendorong sikap kompetisi untuk dapat menyelesaikan tugas lebih baik dan lebih cepat dibanding rekan kerja lainnya.
Namun terlebih lagi bahwa peserta memiliki kendali penuh terhadap proses pembelajaran di mana mereka akan terus ditantang untuk belajar hal-hal yang advance yang mereka minati sehingga mereka lebih dapat pengetahuan yang tepat untuk dapat mereka implementasikan.

Sistem pembelajaran microlearning sebenarnya secara tidak sadar sudah dilakukan oleh orang di masa ini yaitu saat mereka membutuhkan suatu informasi berkaitan dengan suatu pengetahuannya mereka akan segera mengakses melalui Youtube dan internet. Hal ini pun sama karena mereka ketika mempelajari satu topik mereka akan lebih terfokus pada satu proses pembelajaran sehingga mereka dapat langsung menggunakannya dalam pekerjaan mereka.

Satu hal yang menjadi kelemahan dari proses pembelajaran microlearning ini adalah bahwa peserta harus terhubung dengan internet secara aktif. Hal ini tentunya bisa menjadi kendala jika peserta berada di daerah-daerah yang tidak terjangkau dengan sinyal internet. Namun saya percaya bahwa 5 tahun kedepan Internet bukan lagi barang yang sulit di seluruh daerah terpelosok sekalipun juga.

PT Anugerah Nusa Dinamika dengan menggandeng brand ATLAS mempersembahkan microlearning platform yang terus dikembangkan untuk membantu perusahaan meningkatkan sumber daya manusia secara efektif, efisien dan impactful.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram