8 Rules of Microlearning

Menurut survei yang dilakukan oleh Rapid Learning Institute, 94 % profesional Learning & Development yang ambil bagian dalam penelitian ini mengatakan bahwa peserta didik mereka lebih suka modul microlearning daripada kursus e-Learning yang berjalan hingga 30 menit dan lebih.

Andreas Imawanto

By ANDREAS IMAWANTO

Peserta milenial hanya memiliki begitu banyak waktu untuk menyampaikan pandangannya dalam 140 karakter. Mereka lebih suka mengetahui inti cerita ter update satu baris daripada membaca halaman tentang itu. Mereka menuntut agar informasi dapat diakses oleh mereka saat bepergian. Jadi tidak mengherankan bahwa mereka juga ingin belajar disampaikan kepada mereka dengan cara mereka terbiasa mengkonsumsi jenis informasi lain — dalam potongan bite-sized di “lokasi dan kecepatan” mereka sendiri.

Kita harus siap dengan metode microlearning agar pembelajaran bisa tetap relevan dengan kebutuhan peserta. Tetapi sebelum Anda membuat modul e-Learning microlearning pertama (atau selanjutnya), berikut ini adalah rules-nya :

“Modul microlearning BUKAN hanya kursus singkat.” Tweet dalam penyusunan metode microlearning perlu diperhatikan ada konsep yang dinamakan Bite Sized Learning, yaitu pembelajaran harus dilakukan secara kognitif bagian demi bagian sehingga mudah bagi seseorang untuk belajar.


Ada 8 aturan dalam penyusunan bite sized learning atau microlearning yaitu:


1. Aturan pertama adalah stick to an idea / fokus kepada satu materi;
Materi harus disampaikan dalam bentuk paling dasar dari materi tersebut. Jangan membiarkan peserta dibombardir dengan berbagai macam materi yang pada akhirnya tidak dapat diserap dengan baik. Dalam pembelajaran e-learning dimana peserta diminta untuk selama 30 menit mendengarkan berbagai informasi, maka hanya 10% yang dapat diserap dengan baik dan seringkali menyerap hal-hal yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan apa yang di maksud dari trainer. Sedangkan pembelajaran bite size learning peserta hanya disodorkan 1 materi penting dan ia diminta untuk menerapkan materi tersebut ke dalam problem yang sedang dihadapi di tempatnya bekerja. Sehingga apa yang ia pelajari dapat jauh lebih lama tinggal di dalam memorinya dan ketika suatu saat ia memerlukannya informasi tersebut Kembali akan lebih mudah mengaksesnya.


2. Aturan yang kedua adalah engage atau keterlibatan;
Dalam proses pembelajaran peserta diharapkan dapat terlibat dengan semua informasi secara menyenangkan. Dalam penyusunan instructional design kita perlu melihat hubungan antara masing-masing informasi, sehingga peserta dapat mengikutinya dengan mudah. Misalnya dalam satu topik pembelajaran kita membahas satu judul film, lalu mengupas makna dari film tersebut ke dalam diskusi kelompok. Lalu mengkaitkan makna yang diperoleh dari film tersebut ke dalam suatu konsep atau materi tertentu sehingga mudah dipahami oleh peserta. Dengan menggunakan media film peserta akan belajar suatu hal lebih mendalam, karena menonton menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi peserta.


3. Aturan ketiga adalah fokus dan ramping;
Ketika orang belajar sesuatu Ia akan dapat berkonsentrasi ketika lingkungan di sekelilingnya rapih dan buku-buku yang akan dipelajari juga tertata dengan sistematis. Dalam pembelajaran bite sized learning peserta akan mendapatkan materi yang memang ia butuhkan. Jadi jika membahas satu materi tidak terjebak dengan latarbelakang, teori dan referensi-referensi yang kadang-kadang tidak terlalu relevan, namun peserta akan langsung memperoleh solusi dari pembahasan tersebut. Sehingga mereka akan lebih mudah dalam menerapkannya. Maka dalam konsep microlearning setiap materi harus didukung juga oleh berbagai macam instrumen seperti quiz, forum diskusi, video, problem solution yang langsung akan membantu peserta untuk memahami materi dan juga tips and trick yang lebih mudah di aplikasikan dalam dunia kerja.


4. Aturan keempat adalah melakukan chunking atau pengelompokan secara cerdas;
Coba anda bayangkan kata seperti: apel, jeruk, manggis, mangga, nanas, saya. Dengan urutan kata seperti: Nissan, menara, jeruk, ban mobil, lemari es, komputer. Coba bayangkan urutan mana yang jauh lebih mudah anda ingat , tentu yang atas bukan ? Karena pengelompokannya lebih jelas dan berbicara tentang satu hal yaitu buah-buahan. Bandingkan dengan jika mengingat benda-benda yang ada di sebelah bawahnya. Demikian juga dalam tentunya pengkategorian sangat penting sehingga materi yang dia pelajari lebih mudah di ingat oleh peserta. Metode chunking merupakan domain dari instructional learning sebagai bagian yang bertugas menyusun bahan pembelajaran yang baik dan benar.


5. Aturan kelima yaitu menghargai konteks;
Memahami konteks berarti memberikan pancingan dibanding memberikan ikan kepada peserta . Karena peserta bukan sekedar mempelajari sesuatu hal, tetapi mereka bisa memaknai materi tersebut dan mereka implementasikan ke dalam permasalahan sehari-hari nya di tempat kerja. Itulah sebabnya ketika satu materi diangkat sebagai subtopik dalam microlearning akan selalu diikuti dengan pembahasan mengenai How to, why, who. Dengan demikian peserta akan mulai membuka wawasan mereka untuk melihat keterkaitan antara konsep yang mereka pelajari dengan solusi yang mereka cari.


6. Aturan keenam adalah memberi kesempatan waktu kepada pembelajaran;
Untuk mengelola materi pembelajaran peserta pembelajaran memiliki waktu untuk mencerna terlebih dahulu sebelum mereka ke subtopik berikutnya. Sehingga dalam menerapkan pembelajaran microlearning peserta tidak hanya sekedar belajar secara informatif mereka juga lebih mampu memahami setiap proses pembelajaran karena mereka tidak di buru-buru untuk loncat ke materi berikutnya. Peserta memiliki banyak waktu untuk mengklarifikasi materi yang baru ia pelajari melalui internet atau media lainnya.


7. Aturan ketujuh adalah membuat desain yang user friendly
Jika kita menilik bagaimana aplikasi-aplikasi yang favorit digunakan selama ini adalah bahwa aplikasi tersebut memiliki kemampuan user-friendly yang tinggi. Dengan banyaknya alternatif peserta dalam menggunakan aplikasi di gadget mereka mereka membutuhkan kemudahan dalam penggunaan namun sangat kaya dengan konten pembelajaran yang mereka butuhkan. Desain yang user friendly dibuat selain mempermudah akses setiap orang ketika mereka masuk ke masing-masing subtopik, juga bagaimana mereka dapat kembali ke topik-topik sebelumnya ketika mereka ingin mengulang kembali apa yang mereka pelajari di subtopik sebelumnya.


8. Aturan ke-8 adalah personalisasi
Kemampuan untuk setiap orang tidak diseragamkan seperti dalam pelatihan konvensional yang menuntut orang untuk mulai bersama-sama dan mengakhirinya secara bersama-sama, namun dalam microlearning kecepatan masing-masing orang akan di pertimbangkan sebagai proses pelajaran yang unik, sehingga peserta dapat mengelola waktu belajar mereka lebih efektif dan efisien. Dengan adanya teknologi notifikasi, pembatasan durasi waktu, reward yang mereka peroleh ketika menyelesaikan suatu tugas akan membantu peserta juga untuk tetap fokus menyelesaikan tugas-tugas yang mereka harus.

8 aturan di atas merupakan kunci keberhasilan bagaimana menggunakan microlearning sebagai alat pembelajaran yang sangat powerful. Karena microlearning berbasiskan pada teori kognitif dimana seluruh proses pembelajaran benar benar memanfaatkan bagaimana otak manusia belajar sesuatu, akan membuat proses pembelajaran berlangsung secara alamiah namun juga dampak terhadap performance seseorang dalam pekerjaan mereka.

Sharing is Caring

Share on facebook
Facebook
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram